Pernahkah
kalian dibohongi teman? Bagaimana perasaan kalian ketika itu? Tentu kalian akan
sakit hati dan benci kepada teman tersebut. Demikianlah, berbohong kepada orang
lain akan mengakibatkan sakit hati, muncul rasa benci, dan saling tidak
percaya, sungguh jika ini terjadi maka kehidupan akan kacau dan penuh dengan
perselisihan. Oleh karena itu, berperilakulah jujur kepada siapa pun. Dengan
berperilaku jujur, kalian akan memiliki banyak teman dan dipercaya orang lain.
Kejujuran akan membimbing seseorang kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing
kepada surga.
Pada
dasarnya. Setiap orang ingin diperlakukan dengan jujur dan adil. Kedua orang
tua akan sangat bangga jika anak-anaknya selalu jujur. Demikian pula bapak ibu
guru akan sangat bangga jika murid-muridnya terbiasa jujur. Tentunya kalian
juga akan senang jika memiliki teman yang selalu jujur dalam setiap keadaan.
Teman ibarat cermin bagi kita. Kepribadian seseorang bisa dilihat dari teman
dekatnya. Jika teman dekatnya orang-orang baik, maka kemungkinan besar dia
orang baik. Demikian pula sebaliknya. Inilah pentingnya memilih teman yang
memiliki akhlak mulia.
Mari
kita lihat lingkungan sekitar, setiap hari media elektronik dan media cetak
memberitakan peristiwa rakyat kecil berjuang mencari keadilan. Mulai dari pembantu
rumah tangga diperlakukan tidak adil oleh majikan, hingga buruh yang
dipermainkan pengusaha. Mereka berjuang dengan penuh harapan supaya hak-haknya
diberikan. Semua ini menggambarkan bahwa setiap orang ingin diperlakukan dengan
adil. Bukankah Pancasila sila kelima berbunyi : “Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia”?. Keadilan merupakan modal dasar mencapai kesejahteraan
bangsa. Oleh karena itu keadilan harus ditegakkan dengan penuh kesungguhan.
Kejujuran
dan keadilan merupakan dua sifat mulia yang harus dimiliki setiap mukmin.
Keduanya harus ditanamkan dan dibiasakan sejak usia dini. Di rumah, di sekolah
dan di manapun harus terbiasa berperilaku jujur dan adil. Apalagi kalian generasi
muda muslim yang akan menjadi pemimpin pada masa yang akan datang. Bangsa
Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur dan adil. Oleh karena itu kalian
harus memegang teguh kedua perilaku mulia tersebut.
Mutiara Khasanah Islam
1. JUJUR
Setiap orang mendambakan keluarga
harmonis dan penuh ketenangan. Kehidupan keluarga akan harmonis jika
masing-masing anggota keluarga saling menghargai dan berperilaku jujur.
Kejujuran dalam keluarga merupakan pondasi awal bagi kelangsungan kehidupan di masyarakat.
Masing-masing anggota keluarga berperilaku jujur satu sama lain, dalam arti
berkata apa adanya dan sesuai kenyataan. Orang tua berkata jujur kepada
anak-anaknya. Demikian pula anak berkata jujur kepada orang tua. Bisa
dibayangkan apa yang terjadi jika masing-masing anggota keluarga tidak jujur?.
Tentu akan terjadi pertengkaran dan perselisihan. Benih permusuhan akan muncul
dari perilaku tidak jujur.
Anggota keluarga, baik itu ayah, ibu,
adik maupun kakak memiliki hak dan tanggung jawab masing-masing. Mereka butuh
kerjasama dan kekompakan dari masing-masing anggota keluarga. Kerjasama dan kekompakan
ini dapat terwujud jika masing-masing berperilaku jujur. Sebagai anak yang
saleh tentu kalian menginginkan kehidupan keluarga
yang harmonis. Oleh karena itu biasakanlah
berperilaku jujur mulai dari rumah.
Berperilaku jujur di sekolah sama
pentingnya dengan berperilaku jujur di rumah. Seorang peserta didik hendaknya
jujur kepada bapak ibu guru, karyawan dan teman di sekolah. Kejujuran peserta
didik pada saat mengerjakan ulangan akan sangat membantu bapak ibu guru dalam mengevaluasi
hasil pembelajaran. Berperilaku jujur kepada teman disekolah maka akan terjalin
hubungan harmonis.
Semua anggota masyarakat akan hidup
rukun dan damai jika masing-masing menjunjung tinggi kejujuran. Sebaliknya,
ketidakjujuran akan berakibat konflik antar anggota masyarakat. Konflik yang
terjadi ditengah-tengah masyarakat merupakan bencana sosial yang menakutkan. Karena
hal ini bisa meluas menjadi tawuran antar warga. Sungguh, semua ini tidak
dikehendaki bersama.
Kejujuran harus diutamakan dalam setiap
pergaulan, baik dirumah, sekolah maupun masyarakat. Kerugian akibat
ketidakjujuran akan dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain. Seseorang yang
tidak jujur akan sulit mendapat kepercayaan dari orang lain. Sementara orang
lain yang pernah dibohongi akan merasa kecewa dan sakit hati. Kepercayaan tidak
bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan akan muncul jika seseorang jujur. Sebagai
contoh, seorang yang jujur biasanya akan dipilih menjadi bendahara. Tugas
bendahara sungguh sangat berat, karena harus mencatat dan membukukan keuangan
dengan benar dan jujur. Setiap tugas dan kewajiban yang dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya pasti akan mendapat balasan dari Allah Swt berupa pahala. Dalam
sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah Saw bersabda :
“Seorang
bendahara muslim yang melaksanakan tugasnya dengan jujur, dan membayar sedekah
kepada orang yang diperintahkan oleh majikannya secara sempurna, dengan segera
dan dengan pelayanan yang baik, maka ia mendapat pahala yang sama seperti orang
yang bersedekah.”
Sumber :
Kitab Hadis Shahih Muslim
2. Adil
Adil
berarti memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya, meletakkan segala
urusan pada tempatnya. Orang yang adil adalah orang yang memihak kepada
kebenaran, bukan berpihak karena pertemanan, persamaan suku, maupun bangsa. Ajaran
Islam menjunjung tinggi azas keadilan. Hal ini bisa difahami karena Islam
membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Oleh karena
itu
setiap muslim wajib menegakkan keadilan dalam posisi apapun. Apalagi seorang
muslim yang menjadi polisi, jaksa, hakim atau aparat hukum lainnya harus
menegakkan keadilan tanpa memandang suku, agama, status sosial, pangkat maupun
jabatan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud apabila setiap muslim
menegakkan keadilan. Dalam sebuah hadits riwayat Nasa’i, Rasulullah Saw
bersabda:
“Sesungguhnya
orang-orang yang berlaku adil akan ditempatkan di sisi Allah Ta’ala di atas
mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, di sisi sebelah kanan ‘Arrahman. Yaitu,
orang-orang yang adil dalam menghukumi mereka, adil dalam keluarga mereka dan
dalam mengerjakan tugas mereka.”
Sumber :
Kitab Hadis Sunan Nasa’i
Allah
Swt menegaskan bahwa kebencian terhadap suatu golongan, atau individu,
janganlah menjadi pendorong untuk bertindak tidak adil. Ini menjadi bukti bahwa
Islam menjunjung tinggi keadilan. Rasa benci kepada seseorang atau suatu
golongan menjadi pintu masuk setan untuk menjerumuskan manusia kedalam lubang
kehancuran. Bisa dibayangkan betapa sulinya ketika harus berbuat adil kepada
orang atau golongan yang kita benci. Meskipun sulit, karena ini perintah agama
maka harus dilaksanakan.
Adil
bukan berarti harus sama rata. Misalnya, ada orang tua memiliki tiga orang
anak. Masing-masing masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah
Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi (PT). Orang tua yang adil akan memberikan uang
saku dengan jumlah berbeda karena kebutuhan mereka berbeda. Justru tidak adil
jika orang tua tersebut memberikan uang saku dengan jumlah sama.
3. Memahami Dalil Naqli tentang Perilaku Jujur dan Adil
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا
قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ
عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)
Artinya:
“ Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang
selalu menegakan kebenaran karena Allah Swt, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah
sekal-sekali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah Swt, sungguh, Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu
kerjakan” (QS Al-Maidah/5 ayat 8)
Ayat
di atas menegaskan bahwa menegakkan keadilan harus karena Allah Swt semata,
bukan karena kepentingan pribadi atau duniawi. Kepentingan pribadi atau duniawi
harus dikesampingkan dalam menegakkan keadilan. Bahkan jika kita bersaksi untuk
kepentingan kerabat dekat, maka kita pun harus bersaksi dengan mengatakan yang
sebenarnya, meskipun kesaksian itu merugikannya. Demikian juga jika kita
bersaksi untuk musuh, maka kita pun harus bersaksi dengan mengatakan yang
sebenarnya, meskipun menguntungkannya.
Bagaimana
jika kebenaran itu dari orang kafir? Kita harus tetap berlaku adil dan menerima
kebenaran meskipun muncul dari orang kafir. Bahkan jika kita menolak kebenaran
dari yang kafir dikategorikan sebagai kezaliman. Jadi, keadilan itu berlaku
untuk semua, baik kawan maupun lawan. Kalau kebenaran yang datangnya dari orang
kafir saja kita harus tetap menerimanya, maka kebenaran yang datangnya dari
sesama muslim sudah jelas harus kita terima. Oleh karena itu menjadi sangat
aneh kalau antara sesama muslim saja saling bertikai hanya karena masing-masing
merasa bahwa pendapatnya yang paling benar.
Berlaku
adil dalam ayat di atas bermakna berusaha untuk adil dan menegakkan keadilan.
Jadi setiap usaha untuk menegakkan keadilan dan perilaku menegakkan keadilan
akan mendekatkan kepada ketakwaan. Semakin sempurna keadilan, maka semakin
sempurna pula ketakwaan.
Cermatilah
kisah berikut ini :
KEADILAN
UMAR KHATTAB TERHADAP YAHUDI
Khalifah
Umar bin Khattab bercakap-cakap dengan kakek Yahudi.
“kakek
jauh-jauh datang dari Mesir, adakah keperluan yang ingin kakek sampaikan?”
tanya Khalifah kepada kakek Yahudi. Kakek Yahudi itu pun menceritakan bahwa
rumahnya secara sepihak diratakan untuk dibangun masjid. Dia pun mencurahkan
perasaannya, kepada Khalifah Umar mengenai perjuangan untuk memiliki rumah itu.
“Sungguh sangat menyedihkan, harta satu-satunya yang aku miliki sekarang telah
sirna, karena dirampas oleh pemerintah.”
Wajah
Khalifah Umar sontak memerah. Khalifah Umar pun begitu marah mengetahui kisah
yang didengarnya dari kakek Yahudi. Khalifah Umar lantas mengambil tulang unta
lalu menggores tulang tersebut dengan huruf alif dengan pedangnya. Tulang unta
itu diserahkan kepada kakek Yahudi. Khalifah Umar lantas berpesan, “Bawa tulang
ini ke Mesir dan berikan kepada Gubernur Amr bin Ash.”Dengan penuh keheranan
kakek Yahudi pulang ke Mesir hanya
dengan
membawa tulang. Kakek Yahudi lantas memberikan kepada Gubernur Amr bin Ash.
Sang Gubernur Mesir itu sontak pucat ketika menerima tulang tersebut dari kakek
Yahudi. Mendadak, Amr memerintahkan jajarannya untuk membongkar masjid di tanah
miliki kakek Yahudi itu. Kakek Yahudi merasa heran mengapa dengan sebatang
tulang unta busuk, Amr bin Ash bersedia membongkar masjid untuk kembali
membangun gubuk milik Yahudi. “Maaf
Tuan,
tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistemewaan
tulang busuk itu sehingga Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja
masjid yang amat mahal ini?.
Amr bin
Ash memegang pundak kakek Yahudi sambil berkata: “Wahai kakek, tulang ini
hanyalah tulang busuk. Akan tetapi tulang ini merupakan peringatan keras
terhadap diriku dan tulang ini merupakan peringatan dari Khalifah Umar bin
Khattab. Artinya apa pun pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat kamu akan bernasib
sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif
yang lurus. Adil di atas, dan adil di bawah.”
Kakek
Yahudi itu lalu berkata: ”Oh, ternyata Islam itu sangat adil ya Tuan. Gubernur
Amr bin Ash: “Ya inilah Islam”. Kemudian kakek yahudi berkata: “Sungguh saya
kagum dengan keadilan Islam. Mulai hari ini saya menyatakan diri masuk Islam.
Dan saya ikhlaskan gubug saya untuk dibangun masjid”.
Sumber :
diolah dari www.republika.co.id
Rasulullah
Saw dalam sebuah hadits bersabda :
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقَ يَهْدِيْ اِلَى الْبِرِّ وَاِنَّ الْبِرَّ
يَهْدِيْ اِلَى الْجَنَّةِ (رواه الترمذى)
Artinya:
“Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada
kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga”(HR Tirmidzi)
Hadits
di atas menegaskan bahwa kejujuran akan membimbing kepada kebaikan. Dan
kebaikan akan membawa pelakunya ke surga. Seseorang yang jujur akan hidup
dengan tenang. Ia menjalani kehidupan dengan penuh optimis dan semangat.
Berbeda jika seseorang pernah berdusta, tentu akan diselimuti rasa bersalah dan
gelisah. Dusta yang pernah dilakukan akan ditutupi dengan dustadusta yang lain.
Orang
yang jujur juga akan mendapat kepercayaan dari orang lain. Kepercayaan tidak
bisa dibeli dengan uang. Kepercayaan muncul karena seseorang memang layak
mendapatkannya.
Ubaidah bin Jarrah
(Sahabat Nabi yang Sangat Jujur)
Suatu
ketika orang-orang Najran pernah datang kepada Rasulullah Saw seraya berkata; “Ya
Rasulullah, utuslah kepada kami seseorang yang jujur dan dipercaya.” Kemudian
Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh aku akan mengutus kepada kalian seseorang
yang sangat jujur dan dapat dipercaya. Para sahabat merasa penasaran dan
akhirnya menunggu-nunggu orang yang dimaksud oleh Rasulullah itu. Ternyata
Rasulullah mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah.”
(Sumber
: Kitab Shahih Bukhari)
Kejujuran
dan keadilan merupakan dua perilaku terpuji yang harus dimiliki seorang muslim.
Rakyat jelata merindukan pemimpin yang adil. Seorang tersangka merindukan
keadilan seorang hakim. Seorang atlet menginginkan wasit yang adil dalam
pertandingan. Demikianlah keadilan sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia.
Bahkan doa seorang pemimpin yang adil akan diterima oleh Allah Swt sebagaimana
hadis berikut ini :
حَدَّثَنَا
اَبُوْ الْمُدِلَّةِ مَوْلَى اُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ سَمِعَ اَبَ هُرَيْرَةَ
يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ
لَاتُرَدُّ دُعْوَتُهُمْ اَلْاِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ
وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا اَبْوَابُ
السَّمَاءِ (رواه احمد)
Artinya:
“Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mudillah pelayan Ummul Mukminin, bahwa
ia mendengar Abu Hurairah berkata: .” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: Tiga orang yang doa mereka tidak terhalang, yaitu imam (pemimpin)
yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizholimi.
Doa mereka dibawa ke atas awan dan dibukakan pintu langit untuknya” (HR Ahmad)
4. Memahami Cara Menerapkan Perilaku Jujur
dan Adil
Wahai
anak saleh, tahukah kalian bagaimana cara menerapkan perilaku jujur dan adil
dalam kehidupan sehari-hari? Caranya adalah dengan melatih diri secara terus
menerus. Kedua perilaku terpuji tersebut, perlu dilatih dan dibiasakan setiap
saat di manapun kalian berada. Jika seseorang sudah terbiasa jujur dan adil, maka
kedua perilaku mulia ini akan melekat dalam dirinya. Lalu, kapan seseorang bisa
mulai berlatih jujur dan adil? Jawabannya adalah mulai dari sekarang. Jangan menunda,
mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang untuk berperilaku jujur dan
adil.
Perilaku
jujur dan adil ini harus dilatih dan dibiasakan sejak usia dini. Sebab pada
usia dini, seorang anak akan sangat mudah dididik dan dilatih. Orang tua berperan
penting dalam mendidik anak-anaknya untuk jujur dan adil. Orang tua harus
menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menerapkan kejujuran dan menegakkan
keadilan. Kejujuran dan keadilan seorang guru juga akan dicontoh oleh
murid-muridnya. Demikian pula dengan kalian, kejujuran dan keadilan yang kalian
lakukan akan dilihat dan dicontoh oleh adik-adik kalian.
a.
Menerapkan Perilaku Jujur
Perilaku
jujur dapat kita terapkan di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Untuk memahami
cara menerapkan perilaku jujur perhatikan contoh perilaku jujur berikut ini:
1)
Di rumah, kita melaksanakan tugas yang diberikan orang tua dengan sebaiknya-baiknya.
Misalnya, ibu minta tolong dibelikan minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya.
Sebagai anak jujur, semua uang sisa kembalian diberikan kepada ibu. Hal ini
berarti memegang dan menjalankan amanah dengan baik. Memberitakan sesuatu hal
baik ke orang tua ataupun ke dalam lingkungan masyarakat.
2)
Di sekolah, mengerjakan tugas yang diberikan bapak-ibu guru dengan penuh
tanggung jawab. Tidak menyontek saat ulangan, melaksanakan piket sesuai jadwal,
mentaati tata tertib sekolah, bertutur kata yang benar kepada bapak-ibu guru,
karyawan, dan teman. Jika bersalah harus mengakui kesalahannya
3)
Di masyarakat, kita dapat berperilaku jujur dalam rangka membangun masyarakat
yang tenang, harmonis dan saling menghormati. Seseorang yang jujur tidak akan
mengarang cerita atau gosip sehingga akan menimbulkan gaduh dan suasana
lingkungan menjadi tidak kondusif, antara ucapan dan perbuatan. Seseorang yang
jujur harus sama. Dengan berperilaku jujur, maka orang lain akan merasa aman dan
tenteram.
b.
Menerapkan Perilaku Adil
Perilaku
adil juga dapat kita terapkan di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Untuk
memahami cara menerapkan perilaku adil perhatikan contoh perilaku adil berikut
ini:
1)
Di rumah, misalnya setiap awal bulan ayah memberikan uang saku kepada ketiga
anaknya, termasuk kalian sebagai anak pertama. Ayah menitipkan uang saku untuk
kedua adikmu. Masing-masing mendapat Rp.100.000 dan Rp.50.000, sedangkan kamu
mendapat Rp.200.000. Ayah memberikan uang saku secara adil berdasarkan tingkat kebutuhan
anak-anaknya. Sebagai kakek, kalian harus adil kepada adik-adik kalian, yaitu
memberikan hak uang saku kepada mereka sesuai perintah ayah.
2)
Di sekolah, menghormati dan menghargai tugas ketua dan semua pengurus kelas.
Kalian harus memperlakukan mereka dengan adil sesuai posisinya masing-masing di
kepengurusan kelas. Bukan justru sebaliknya, meremehkan dan merendahkan mereka
sebagai “pesuruh” kelas.
3)
Di masyarakat, berlaku adil kepada tetangga dan warga dalam satu RT, RW ataupun
kelurahan. Memperlakukan tetangga dengan baik, tidak merusak nama baiknya
dengan menyebarkan cerita-cerita negatif. Tidak mengganggu tetangga dengan
suara musik yang terlalu keras dari dalam rumah kita. Mengapa demikian? Sebab
tetangga juga punya hak untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik. Dengan memberikan
hak kepada tetangga berarti kita telah berperilaku adil kepada tetangga.
Kisah Teladan
Kejujuran
Seorang Wanita Salihah
Saat
itu tengah malam di kota Madinah. Kebanyakan warga kota sudah tidur. Umar bin
Khatab r.a. berjalan menyelusuri jalan-jalan di kota. Dia coba untuk tidak
melewatkan satupun dari pengamatannya. Menjelang dini hari, pria ini lelah dan
memutuskan untuk beristirahat. Tanpa sengaja, terdengarlah olehnya percakapan
antara ibu dan anak perempuannya dari dalam rumah dekat dia beristirahat.
“Nak,
campurkanlah susu yang engkau perah tadi dengan air,” kata sang ibu.
“Jangan
ibu. Amirul mukminin sudah membuat peraturan untuk tidak menjual susu yang
dicampur air,” jawab sang anak.
“Tapi
banyak orang melakukannya Nak, campurlah sedikit saja. Yakinlah bahwa Amirul
Mukminin tidak mengetahuinya,” kata sang ibu mencoba meyakinkan anaknya.
“Ibu,
Amirul Mukminin mungkin tidak mengetahuinya. Tapi, Rabb dari Amirul Mukminin
pasti melihatnya,” tegas si anak menolak.
Mendengar
percakapan ini, berurailah air mata pria ini. Karena subuh menjelang,
bersegeralah dia ke masjid untuk memimpin salat Subuh. Sesampai di rumah,
dipanggilah anaknya untuk menghadap dan berkata, “Wahai Ashim putra Umar bin
Khattab. Sesungguhnya tadi malam saya mendengar percakapan istimewa. Pergilah
kamu ke rumah si Fulan dan selidikilah keluarganya.” Ashim bin Umar bin Khattab
melaksanakan perintah ayahandanya yang tak lain memang Umar bin Khattab,
Khalifah kedua yang bergelar Amirul Mukminin. Sekembalinya dari penyelidikan,
dia menghadap ayahnya dan mendengar ayahnya berkata, “Pergi dan temuilah
mereka. Lamarlah anak gadisnya itu untuk menjadi isterimu. Aku lihat insyaAllah
ia akan memberi berkah kepadamu dan anak keturunanmu. Mudah-mudahan pula ia dapat
memberi keturunan yang akan menjadi pemimpin bangsa.”
Begitulah,
menikahlah Ashim bin Umar bin Khattab dengan anak gadis tersebut. Dari
pernikahan ini, Umar bin Khattab dikaruniai cucu perempuan bernama Laila, yang
nantinya dikenal dengan Ummi Ashim.
Suatu
malam setelah itu, Umar bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda
dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda
ini memimpin umat Islam seperti dirinya memimpin umat Islam. Mimpi ini
diceritakan hanya kepada keluarganya saja. Saat Umar meninggal, cerita ini
tetap terpendam di antara keluarganya. Ummi Ashim menikah dengan Abdul Aziz bin
Marwan. Abdul Aziz adalah Gubernur Mesir di era khalifah Abdul Malik bin Marwan
(685-705 M). Dari pernikahan Ummi Ashim dengan Abdul Aziz bin Marwan lahirlah
Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
(Sumber
: www.kisah.web.id)
Rangkuman
1.
Kejujuran harus diutamakan dalam setiap pergaulan, baik di rumah, di sekolah
maupun di masyarakat
2.
Adil berarti memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya, meletakkan
segala urusan pada tempatnya
3.
Q.S al-Maidah/5 ayat 8 menegaskan bahwa menegakkan keadilan harus karena Allah
Swt semata, bukan karena kepentingan pribadi atau duniawi.
4.
Kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa
kepada surga.
5. Kejujuran dan keadilan perlu dilatih dan dibiasakan setiap saat dan di manapun berada.
Sumber : ( Buku PAI dan Budi Pekerti Kelas VIII Revisi 2017 Kemendikbud )







0 comments:
Post a Comment